Ekonomi Islam dalam Sejarah

Ekonomi Islam dalam Sejarah (Masa Wahyu, Masa Ekspansi Islam dan Masa Ijtihad)

Oleh: H. Taufiq Hidayat, Lc, MIS.*

 

Artikel ini membahas tentang sejarah perkembangan Ekonomi Islam mulai masa turunnya wahyu hingga masa periode ijtihad. Keberadaan ekonomi Islam dikalangan masyarakat bahkan sampai dikalangan akademis pun masih sering menjadi polemik. Banyak pertanyaan muncul kapan ekonomi Islam muncul, lebih dulu mana ekonomi Islam atau konvensional, dan lain sebagainya. Disatu sisi beranggapan bahwa sistem ekonomi dalam ajaran Islam belum ada pada masa awal Islam, di sisi lain berpendapat hal tersebut telah wujud dalam Islam bahkan menjadi sesuatu yang tak terpisahkan. Dalam tataran ini, sejarah menjadi urgens untuk dipelajari. Artikel ini berusaha melihat keberadaan ekonomi Islam dalam sejarah perkembangan Islam, sehingga diharapkan dapat mengungkap sebenarnya kapan sistem ekonomi Islam  muncul.

Keywords: Sejarah dan Ekonomi Islam

 

A.    Pendahuluan

Ekonomi merupakan salah satu dimensi ajaran yang ada dalam Islam karena Islam adalah agama yang multi komplit, multi factual, dan multi dimensi dalam memenuhi kebutuhan makhlukNya.[1] Objek pembahasan dari Islam ini adalah seluruh perkara yang berkaitan dengan kehidupan manusia, individu, social, budaya, keluarga, ekonomi, politik, militer dan Islam juga menata kehidupan spiritual manusia. Keuniversalan Islam ini, membuat ajaran dan aturan yang ada dapat berlaku di setiap zaman dan tempat.

Ajaran-ajaran Islam yang tersebut di atas bukanlah suatu ajaran yang dapat berdiri sendiri melainkan satu sama lain saling berkaitan. Hal ini membuat cirikhas tersendiri bagi ajaran Islam berbeda dengan ajaran agama yang lain. Oleh karena itu, ajaran Islam yang berkaitan dengan ekonomi harus didasari dengan ajaran yang berkaitan dengan aqidah. Dengan demikian, semua aktivitas ekonomi dalam pandangan Islam merupakan ajaran yang harus dilakukan dan ditaati oleh setiap muslim bukan hanya sebagai wacana semata atau bahan berdiskusi saja. Aturan ekonomi dalam Islam mempunyai tujuan untuk kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat yaitu menata keberlangsungan kehidupan manusia di dunia dalam memenuhi kebutuhannya sehingga mendapat ridho Allah. Implikasi dari ini, setiap aktivitas ekonomi termasuk dalam katagori beribadah.[2]

Oleh karena itu, Pembahasan yang berkaitan dengan ekonomi tidak semata-mata berorientasikan bisnis atau keuntungan belaka melainkan juga harus memperhatikan dasar hukum, legalitas dan etika yang ada dalam Islam. Dengan demikian, konsep yang ada dalam Islam tentang ekonomi sangat universal, tidak terbatas pada aktivitas perekonomian saja tapi juga perkara-perkara yang menjadi dasar dari aktivitas tersebut.  Sebagai contoh Islam tidak hanya memberikan konsep tentang akad dan cara mendapatkan harta atau keuntungan serta bagaimana membelanjakannya tetapi di sisi lain Islam juga berbicara tentang konsep yang lebih mendasar yaitu konsep harta, kepemilikan, bekerja dan lain sebagainya.

Dalam konteks ini, kita dapat menemukan bahwa Islam sangat intens dalam menyoroti permasalahan yang berkaitan dengan ekonomi ummat. Hal ini dapat kita lihat dalam al-Qur’an dan al-Sunah. Ini maknanya telah sejak awal perbincangan tentang ekonomi dalam Islam telah ada.

Guna untuk mempermudah dalam menelusuri kembali pemikiran tentang ekonomi Islam, di sini penulis akan mengulas tentang perjalanan ekonomi Islam pada masa diturunkannya wahyu, masa ekspansi dan masa ijtihad.

 

B.     Masa Wahyu

Yang dimaksud dengan masa wahyu adalah suatu masa di mana masa itu diturunkannya wahyu kepada Nabi Muhammad SAW. masa ini juga disebut dengan masa kerosulan. Masa kerosulan  ini berlajan sekitar 23 tahun yaitu mulai Nabi Muhammad diangkat menjadi rosul hingga wafatnya beliau.

Yang dimaksud dengan wahyu menurut bahasa adalah isyarat, tulisan, ilham surat dan ucapaan yang tersamar.[3] Dan secara istilah wahyu adalah pemberitahuan Allah kepada para Nabi-nabiNya tentang perkara yang harus disampaikan kepada ummat yang berupa syari’at atau kitab dengan cara menurut yang dikehendaki oleh Allah.[4]

Masa wahyu ini mengandung dua sumber dasar legalitas dalam dalam Islam. Yaitu al-Qur’an dan al-Sunnah (al-Hadits). Ini berarti tidak ada legalitas hukum yang lain selain kedua sumber tersebut.

Al-Qur’an adalah “Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad S.A.W. yang merupakan mukjizat, membacanya merupakan beribadah, yang diriwayatkan secara mutawatir, yang tertulis di dalam mushaf , diawali dengan surat al-Fatihah dan di akhiri dengan surat al-Nash”.[5]

Sedangkan yang dimaksud dengan al-Sunnah adalah “ Segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad baik berupa perkataan, perbuatan maupun keputusan (taqrir)”.[6]

Al-Qur’an dan al-Sunnah ini, keduanya menjadi sumber utama dalam ajaran Islam. Sesuatu yang terkandung dalam al-Qur’an dan al-sunnah menjadi petunjuk dan pedoman bagi manusia dalam menata segala aspek kehidupannya di dunia ini. Hal ini kalau dihubungkan dengan ekonomi, yang ekonomi ini merupakan unsur vital dalam kehidupan manusia maka kedua sumber utama tersebut juga telah membahas dengan sangat luas.

Kedudukan al-Sunnah di sini berfungsi sebagai penjelasan atau syarah bagi al-Qur’an yang masih bersifat umum atau global, baik penjelasan al-Sunnah tersebut dengan perkataan, perbuatan ataupun ketentuan Rasul. Di sisi lain al-Qur’an sendiri juga menjabarkan prinsip-prinsip umum yang telah ada dalam al-Qur’an. Al-Sunah juga berfungsi sebagai pentahsis sesuatu yang masih umum yang terdapat dalam al-Qur’an. Akan tetapi dalam al-Sunnah juga ditemukan sesuatu yang memang baru, belum dijelaskan dalam al-Qur’an, ini maknanya al-Sunnah juga berfungsi sebagai dasar hukum yang mustaqil (berdiri sendiri).

Masa wahyu ini secara global dapat diklasifikasikan menjadi dua periode yaitu pertama, periode Makkah dan kedua, periode Madinah. Dua periode ini juga menjadi alasan pembagian surat-surat yang ada dalam al-Qur’an yaitu surat makiyyah dan surat Madaniyyah. Dalam dua periode ini Islam secara keseluruhan telah disampaikan oleh Nabi Muhammad.

  1. 1. Periode Makkah

Periode Makkah yaitu suatu masa yang terjadi sebelum Nabi Muhammad berhijrah ke Madinah. Periode ini memakan waktu 13 tahun lamanya.[7] Dan jumlah ayat yang diturunkan mencapai dua pertiga lebih dari seluruh jumlah ayat yang ada dalam al-Qur’an.

Dari sudut tema, ayat-ayat makiyyah ini berupa pandangan umum atau dasar-dasar Islam yang berkaitan dengan berbagai hal fundamental dalam kehidupan manusia,khususnya yang berkaitan dengan masalah-masalah ketuhanan, manusia, alam dam kehidupan. Al-Qur’an menjelaskan tentang masalah-masalah ketuhanan sebagi sebagai asas akidah dan keimanan setiap muslim. Al-Qur’an juga menjelaskan masalah yang berkaitan dengan penciptaan manusia, makna dan hakikat serta tujuan kehadirannya di muka bumi serta bagaimana seharusnya manusia menjalani kehidupan ini. Di sisi lain al-Qur’an juga menjelaskan tentang pola hidup manusia dan pola hubungan manusia dengan alam sekitar yang dalam suatu istilah disebut dengan ‘alaqat askhir (hubungan pendayagunaan).

Dari paradigma di atas, kemudia al-Qur’an menjabarkan paradigma itu ke dalam prinsip-prinsip yang nantinya menjadi kaidah umum pijakan system Islam dibangun. Prinsip-prinsip ini akan menjadi dasar atau hukum yang ada pada setiap aspek kehidupan manusia di kemudian hari. Ini maknanya periode Makkah lebih banyak berbicara pada tataran doktrin belum banyak berbicara masalah pada dataran praksis yang berkaitan dengan social kemasyarakan dan budaya. Namun demikian, pada periode ini, al-Qur’an juga berbicara tentang sejumlah hukum persial yang berkaitan dengan halal haram, tetapi itu semua masih dalam kerangka penetapan prinsip-prinsip umum sebagaimana hal ini dikatakan oleh al-Syatibiy.[8]

Dalam konteks paradigma dan prinsip umum al-Qur’an pada periode ini juga telah menjelaskan tentang berbagai hal yang berkaitan dengan ekonomi. Seperti anjuran untuk bekerja mencari rizki Allah dan menginfakkan di jalan Allah, memakan harta anak yatim, melarang kezaliman, pemborosan, berlaku cura dalam timbang menimbang dan berbuat kerusakan di muka bumi ini.

  1. 2. Periode Madinah

Periode Madinnah ini bermula dari hijrahnya Nabi Muhammad bersama para sahabatnya dari Makkah ke Yatsrib (Madinah), hingga wafatnya beliau di Madinnah. Periode ini berjalan kurang lebih sepuluh tahun.[9] Di Madinah ini, Nabi dan ummatnya memulai tahapan baru dari perjalanan dakwahnya dengan memiliki komunitas social serta struktur politik kepemerintahan. Keadaan ini yang membuat Islam tambah berkembang luas sampai keluar daerah Madinah dengan cara ekspansi atau pembukaan wilayah baru di bawah daulah Islamiyyah.

Prinsip-prinsip umum al-Qur’an yang turun di Makkah merupakan dasar pemikiran, pergerakan serta pembentukan masyarakat muslim di Madinah. Pembentukan masyarakat muslim diperlukannya dasar atau landasan yang lebih rinci. Oleh karena itu, ayat-ayat Madiniyyah lebih menjelaskan masalah-masalah yang lebih bersifat terperinci, disamping juga menjelaskan terhadap prinsip-prinsip umum yang telah ada.

Dalam periode ini pula, selama turunnya wahyu, Nabi menjelaskan terhadap apa yang telah diwahyukan kepada beliau, juga menjelaskan terhadap ayat al-Qur’an yang masih bersifat umum yang telah ada. Di sisi yang lain, Nabi juga tetep menjadi sumber hukum yang mustaqil ini maknanya banyak masalah yang dalam al-Qur’an tidak dijelaskan namun dalam al-hadits dijelaskan.

Dengan demikian, kita bisa memahami bahwa al-Qur’an dan al-Hadits merupakan system ideal yang turun secara bertahap untuk mengatur dan menegakkan kemaslahatan bagi ummat manusia dalam menjalani kehidupan. Dalam konteks ini permasalahan ekonomi menjadi salah satu sub system yang terdapat dalam kehidupan manusia yang di ajarkan untuk mencapai kemaslahatan manusia itu sendiri. Sebagai sub system permasalahan ekonomi dijelaskan dalam al-Qur’an dan al-hadits dengan tiga pola, yaitu paradigma, prinsip umum dan rincian system. Hal ini yang menjadi berbeda dengan penjelasan masalah-masalah ekonomi yang ada dalam ilmu ekonomi.[10]

Dalam paradigma, al-Qur’an telah menjelaskan konsep khilafah yang mana konsep ini untuk dan bagaimana memakmurkan bumi ini yang mana manusia hidup di atasnya.[11] Konsep ini berimplikasi sangat luas terhadap kehidupan manusia, manusia harus mampu mengolah dan menjaga ciptaan Allah di muka bumi ini serta mendayagunakan sumber alam sehingga dapat dimanfaatkan oleh manusia. Di sisi lain paradigma ini juga menjelaskan asal muasal manusia serta tujuan akhir dari kehidupan manusia. Manusia diciptakan dari tanah dan kelak akan menjadi tanah kembali. Ini maknanya dalam semua manusia itu sama di hadapan tuhan tidak pandang ras, suku, kelompok atau golongan. Dalam konteks ini tujuan akhir dari semua kerja manusia adalah untuk beribadah kepada Allah (mencari keredaan Allah), semua aktivitas yang dilakukan manusia mempunyai hitingan-hitungan sendiri menurut usahanya, baik perbuatan yang baik maupun jelek, baik dilakukan orang miskin ataupun kaya.[12] Di sinilah letak keadilan yang dimaksud dalam Islam.

Perbedaan yang ada seperti perbedaan akal, fisik dan psicologi antara individu hanya merupakan dinamika kehidupan tidak menjadi ukuran atau standar. Namun perbedaan itu bisa menyebabkan adanya perbedaan dalam dataran strata social. Oleh karena itu, Allah menjelaskan kualifikasi standar yang kompentitif, secara vertical adalah ketakwaan seseorang dan secara horizontal adalah kesalehan atau kemanfaatan social, dan keduanya dipadukan dalam bentuk konsep kerja. Yang bekerja dalam ekonomi Islam mempunyai tujuan untuk mencari kebahagiaan dunia akhirat yaitu keredaan Allah.[13]

Ketiga konsep yaitu khilafah, ibadah dan kerja kemudian diimplementasikan kedalam prinsip-prinsip umum yang nantinya menjadi dasar ekonomi Islam. Konsep khilafah melahirkan dua sisi kepemilikian, yaitu pemilik yang sebenarnya dari semua yang ada di bumi yaitu Allah, tetapi Allah menganugrahkan apa yang ada kepada mausia untuk di kelola dan diurus untuk tujuan ibadah. Konsep ibadah memunculkan prinsip kebebasan terbatas yaitu kebebasan yang dibatasi dengan etika dan aturan agama dalam berbagai aktivitas ekonomi. Konsep kerja membuahkan prinsip keadilan social dalam bentuk pengharaman penzaliman, menumbuhkan berbagai bentuk kesetiakawanan atau tolong menolong sesama manusia dan tetap memberi ruang untuk saling berlomba untuk mencapai hal yang terbaik.[14]

Pada periode ini, ayat-ayat Madinah diturunkan sebagai penjelasan dan penjabaran dari ayat-ayat (makiiyah) yang mengandung prinsip-prinsip umum. Seperti pengharaman riba, memakan harta dengan cara batil, menganjurkan jual beli, menganjurkan perdagangan, zakat, infak dan sadaqah, mengatur proses sewa menyewa, utang piutang, perkongsian dan segala bentuk aktivitas ekonomi. Jumlah keseluruhan ayat yang turun yang berkaitan dengan pengaturan aktivitas keuangan adalah sekitar 70 ayat. Di sisi lain al-Sunnah selalu menyertai turunnya wahyu tersebut dengan penjelasan dan perincian serta penerapan.

Pada masa wahyu ini, ummat muslim berkembang di tengah komunitas social jahiliyyah. Ini maknanya komunitas muslim menjadi subsitem baru dalam wilayah system besar jahiliyah. Sebagai subsistem ummat muslim telah mengalami banyak rintangan dan hambatan dalam pertumbuhannya (khususnya ekonomi). Sebagai contoh pada tahun ketujuh hingga sepuluh hijriyyah masa kenabian, masa itu umat muslim masih berada di Makkah mendapat embargo ekonomi selama tiga tahun oleh komunitas mayoritas yaitu kaum musyrik Quraisy yang mengakibatkan ummat Islam mengalami penderitaan yang mendalem yaitu kelaparan yang sangat berat.[15] Kemudian pada waktu ummat Islam mau hijrah ke Madinnah tepatnya tahun ketiga belas masa kenabian, harta-harta ummat muslim dirampas oleh orang-orang Quraisy, sehingga orang-orang muhajirin menjadi orang-orang yang miskin.

Kondisi seperti inilah yang mendorong ummat Muslim untuk giat dan serius  memikirkan kondisi perekonomian mereka. Di awali dengan pembentukan negara baru di Madinah, kemudian Rasulullah segera menyelesaikan permasalahan yang sangat mendasar yang berkaitan dengan ekonomi, yaitu dengan jalan mempersaudarakan antara kaum muhajirin dan kaum anshor.[16] Kemudian ummat muslim mulai melakukan aktivitas ekonomi dimulai dengan adanya ekspansi ke pasar Madinah, yang sebelum hijrah didominasi oleh orang-orang Yahudi. Pada awal masa hijrah Allah memerintahkan untuk melakukan jual beli, perdagangan umum dan pelarangan terhadap riba. Kemudian disusul dengan turunnya ayat yang memerintahkan untuk mengeluarkan zakat bagi mereka yang hartanya mencukupi nisab.

Selain itu yang perlu diketahui adalah sector ekonomi yang aktif pada masa itu adalah perdagangan dan pertanian. Hal ini disebabkan berbagai factor di antaranya adalah jumlah pelaku ekonomi relatif sedikit, aktivitas ekonomi yang relatif sederhana dan para pelaku ekonomi rata-rata mempunyai komitmen yang tinggi terhadap ketaqwaan.

Ada beberapa hal yang muncul pada masa wahyu ini, di antaranya adalah:

  1. Pendirian Bait al-Mal. Bait al-Mal merupakan central dari pemasukan dan peredaran atau pentasarufan harta negara. Hal ini dibangun oleh rosulullah dengan tujuan untuk mensejahterakan ummat muslim.
  2. Pembentukan Wilayah al-Hisbah. Al-Hisbah berfungsi sebagai chek and belence atau alat pengontrol kegiatan perekonomian di pasar, seperti mengawasi harga, barang yang diperjual belikan dan lain sebagainya.[17]
  3. Pembangunan Etika Bisnis. Orientasi bisnis dalam Islam tidak hanyan keuntungan material saja, tapi juga orientasi ibadah dan mardhatillah juga dipertimbangkan, maka etika di sini diperlukan.[18] Pada masa ini, Rosulullah telah membangun perangkat etika bisnis, seperti pengharaman riba, ditegakkan keadilan ekonomi, dilarangnya monopoli dan lain sebagainya.[19]

 

C.    Masa Ekspansi Islam

Masa ini adalah masa penyebaran dan pembukaan wilayah baru. Ekspansi ini sebenarnya telah digagas oleh Rasulullah pada akhir masa hidupnya, yaitu melakukan kontak dalam berbagai bentuk dengan dua imperium besar di luar jazirah Arab, yakni Persi dan Romawi.

Pada masa Abu Bakar, beliau mengawali dengan mengirimkan pasukan yang dipimpin oleh Usamah yang telah direncanakan oleh Rasulullah namun beliau tidak sempat merealisasikannya ke Balqa’ perbatasan Syam. Selain itu, khalid ibn Walid terus gigih berjuang melawan orang-orang murtad dan melanjutkan ekspansinya ke wilayah Iraq. Kemudian pada masa Abu Bakar juga terjadi perang besar melawan orang Romawi yaitu yang kita kenal dengan perang Yarmuk di wilayah Syam. Ketika pada masa Umar ibn Khatab, beliau berhasil membebaskan seluruh wilayah Syam yang asalnya merupakan wilayah di bawah kekuasaan Romawi,selanjutnya sebagian besar wilayah Persi, Iraq, Sawad, kemudian Mesir. Pembukaan wilayah ini terus berlanjut di masa Utsman ibn ‘Affan menjadi khalifah sampai ummat muslim berhasil menguasai seluruh wilayah Persi, dari Iraq sampai wilayah Asia Tengah dan perbatasan Asia Selatan.[20]

Namun demikian, ekspansi ini mewariskan berbagai permasalahan baru, baik dalam bidang politik, keamanan, ekonomi, keuangan maupun dalam bidang dakwah dan pendidikan serta pelayanan social.

Untuk mengantisipasi dan penyelesaian permasalahan yang timbul maka, pada masa itu ada kebijakan yang mengatakan tentang sumber pendapatan negara. Di antara sumber pendapatan negara adalah:

  1. Zakat. Yaitu harta yang di ambil dari kaum muslim yang memiliki harta yang telah mencapai syarat rukunnya zakat.[21]Dalam kaitannya dengan hal ini, infaq dan sodaqah juga termasuk dari pendapatan negara yang penting pada masa itu.
  2. Ghanimmah. Ghanimmah adalah harta dari rampasan perang yang bergerak, seperti senjata, kendaraan dan uang, yang diperoleh dari orang musyrik atau kafir melalui jalan peperangan.[22]
  3. Kharaj. Yaitu harta tidak berferak seperti tanah dan bangunan yang diperoleh dari orang kafir atau musyrik baik dengan jalan peperangan maupun dengan jalan damai.[23]
  4. Jizyah. Merupakan pajak yang ditarik dari orang non muslim yang hidup di bawah wilayah daulah Islamiyyah dengan mendapatkan jaminan keamanan.[24]
  5. ‘Usyur. Yaitu pajak yang ditarik dari para pengguna jasa lalu lintas perdagangan di wilayah-wilayah daulah Islamiyyah.[25]

Dengan demikian, pada masa ekspansi ini ijtihad selalu menyertai perkembangan realitas, ini berbeda dengan pada masa wahyu, yang mana pada masa wahyu al-Qur’an dan al-Sunnah selalu menyertai realitas. Dan pada masa ekspansi ni, system yang dibangun Rasulullah telah berkembang jauh dan menemukan bentuk aplikatifnya yang ideal, baik pada bidang hukumnya maupun pada bidang kelembagaannya.

 

D.    Masa Ijtihad

Masa ijtihad adalam suatu masa di mana banyak muncul keilmuan-keilmuan baik keilmuan Islam maupun alam. Masa ini terjadi pada abad kedua, ketiga hingga pertengahan abad kelima hijriyyah.

Bernagai konflik internal Islam telah terjadi di masa khulafaurrasidin khususnya pada masa khalifah ‘Utsman ibn ‘Affan dan ‘Ali ibn Thalib, telah mempengaruhi laju ekspansi Islam. Konflik ini relatif bisa di redam pada masa Bani Umayyah dan ekspansi Islam berjalan kembali hingga memasuki dratan Eropa melalui Andalusia, Palerno dan Sicilia. Pada tahun 132 H. Khalifah Bani Umayyah runtuh, kemudian diteruskan khalifah Bani Abasyiyyah dan ekspansi Islam ini juga di lanjutkan oleh pemerintahan yang dipimpinnya.

Namun keadaan pemerintahan dan masyarakat ummat Islam tidak jauh lebih baik dari pemerintahan khulafaurrasidin. Ini bisa kita lihat permasalahan-permasalahan yang muncul, seperti terjadinya perpecahan di kalangan ummat Islam yaitu Khawarij, Syi’ah dan Mu’tazilah. Begitu juga permasalahan di berbagai bidang yang diakibatkan dari perluasan wilayah seperti perekonomian dan keuangan, pola kehidupan masyarakat kota yang relatif stabil telah menjadi gejala umum.

Pada masa ini salah satu bidang yang berkembang sangat pesat adalah ilmu pengetahuan, baik ilmu-ilmu keislaman murni maupun ilmu-ilmu Alam.  Sesuatu yang penting yang menandai masa ini adalah proses kristalisasi keilmuan dari paradigma, prinsip umum ke system atau rincian hukum kemudian terkristalisasi lagi ke formasi teoritis yang kemudian melahirkan disiplin-disiplin baru yang berdiri sendiri. Pada masa ini pula lahir ulama-ulama besar dalam baerbagai disiplin keilmuan Islam, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’I, dan Imam Ahmad. Yang mana keempat ulama ini terkenal dengan Imam Madzhab yang terfokus pada permasalahan fikih.

Pada era ini juga, ilmu fikih masih menjadi trend atau tetap menjadi induk yang menjadi dasar semua bidang kehidupan masyarakat muslim. Kemudian ilmu social seperti ekonomi dan politik menjadi subtema dalam ilmu fikih tersebut. Misalnya ilmu ekonomi masuk dalam pembahasan kitab Mu’amalah dan ilmu politik masuk dalam pembahasan Kitab al-Qadha dan lainnya.

Pada masa ini para Mujtahid Islam mentransformasi system menjadi satuan-satuan ilmu yang terstruktur dengan baik. Hal ini menjadi realitas sejarah Islam, maka ini adalah akal-akal muslim masa itu dengan sangat cemerlang telah mengayomi jalannya gerak sejarah ummat muslim denga segala perkembangannya, karena mereka telah menyerap samawi dengan begitu dalam, sedalam mereka memahami realitas zamannnya.

Dari realitas, seperti apa yang telah dijelaskan di atas, pemikiran ekonomi teangkum dalam berbagai macam tema ilmu fikih, ia belum berdiri sendiri atau menjadi disiplin ilmu sendiri. Ini maknanya ilmu fikih merupakan pondasi untuk berdirinya sebuah system, seperti apa yang dibakukan oleh ilmu fikih dari ekonomi masa itu adalah aspek hukum yang kemudian membentuk sistemnya.

Meskipun begitu, ada beberapa ulama dengan berbgai karya ilmiah yang secara spesifik berbicara masalah ekonomi dan keuangan. Di antaranya adalah:

  1. Kitab al-Amwal karangan Abu Ubaid al-Qasim ibn Salam  (157-224 H)
  2. Kitab al-Kharaj Karya Abu Yusuf (113-182 H)
  3. Risalah al-Shahabah Karya Abdullah ibn al-Muqaffa’ (109-145H)
  4. Dan lain-lain

 

E.     Penutup

Peradaban Islam telah mewarnai dan merobah sejarah manusia khususnya dari zaman jahiliyyah menuju zaman yang beradab, berilmu dan bermartabat. Islam telah mengajarkan berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia, tidak terkecuali pembahasan ekonomi. Ekonomi merupakan permasalahan yang mau tidak mau harus dipikirkan dengan serius, ini karena ekonomi menjadi sesuatu yang vital dalam kaitannya untuk menjaga keberlangsungan kehidupan manusia di dunia ini.

Islam sejak awal telah intens dan serius mengajarkan tentang ekonomi ini, pembahasan hal ini dalam Islam dengan menggunakan tiga pola, yaitu:Paradigma, prinsip umum dan rincian hukum. Dengan tiga pola ini, akhirnya ummat muslim dapat menyerap, memahami dan melaksanakan konsep ekonomi yang diajarkan oleh Islam melalui al-Qur’an dan al-Sunnah serta ijtihad dari para ulama.

Dari pemaparan sejarah ekonomi Islam dalam makalah ini, dapat diambil beberapa kesimpulan, di antaranya adalah:

  1. Sejak awal (pada periode makkah) konsep ekonomi telah ada dalam risalah Muhammad, meskipun masih dalam dataran prinsip-prinsip umum.
  2. Ekonomi Islam bersumber kepada al-Qur’an dan al-Sunnah serta hasil ijtihad para ulama. Ini bermakna ekonomi Islam merupakan konsep Ilahi, tidak berasal dari akal manusia atau pemikiran manusia. Meskipun dalam tataran teknis kadangkala akal manusia turut berperan dalam menentukan dan mengaplikasikan ajaran yang bersumber dari al-Qur'an dan al-Sunnah.
  3. Konsep ekonomi dipahami sebagai ajaran yang harus dilaksanakan dan diimplementasikan oleh ummat muslim dalam kehidupan nyata, tidak hanya sekedar menjadi wacana semata.
  4. Perkembangan ekonomi Islam semakin maju, ditandai dengan banyak munculnya karya ilmiah yang berkaitan dengan perekonomian.

 

DAFTAR PUSTAKA

Abadiy, Fairuz, 1952, Qamus al-Muhith, cet 2, ttp: Mathba’ah Musthoafa al-Halabiyy.

Abu Saud, Mahmud, 1992, Garis-garis Besar Ekonomi Islam,Ptrj: Achmad Rais, cet 2, Jakarta: Gema Insani Press.

Abu Subhah, Muhammad 1987, al-Madkhal li al-Dirasah al-Qur’an al-Karim, cet 3, ttp: Dar al-Liwa’ li al-Nashr.

Abu Yahya, Muhammad Hasan, 1989, Iqtisoduna fi dlou’i al-Qur’an wa al-Sunnah, ‘Amman: Dar ‘Imar li al-Nasyr.

al-‘Alim, Yusuf Hamid, 1975, Nizam al-Islam al-Iqishadiyy al-Siyasiyy, Bairut: Dar al-Qalam.

al-Bayatiyy, Munir Hamid, 1994, Nudzum al-Islamiyyah, Amman: Dar al-Basyir.

al-Katsir, Muhammad ibn Isma’il, 1992, al-Bidayah wa al-Nihayah, Bairut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.

al-Mubarakfury, Shafiyurrahman, 2003, Sirah Nabawiyyah, cet 13, Jakarta: Pustaka al-Kautsar.

al-Qardawiyy, Yusuf, 1986, Matlamat dan Tujuan Ibadah dalam Islam, ttp: Yayasan Dakwah Islamiyyah Malaisia.

al-Qathan, Manna’, 1982, al-Tasyri’ wa al-Fiqh fi al-Islam, cet 2, Bairut: Muasasah al-Risalah.

al-Tholhan, Mahmud, 1976, Taisir Mustholah al-Hadits, Riyadh: Mathba’ah al-Madinah.

al-Wakil, Muhammad al-Sayed, tth, Jaulah Tarikhiyyah, Jeddah: Dar al-Mujtama’.

Baqir al-Sadr, Muhammad, 1987, Iqtishoduna, cet 20, Bairut: Dar al-Ta’aruf.

Haider, Naqvi Syed Nawab, 1990, Etika dan Ekonomi Satu Sintesis Islam, ttp: Berita Publishing Sdn. Bhd.

Ibrahim, Abu Sin Ahmad, 1984, al-Idarah fi al-Islam, al-Qahirah: Maktabah Wahbah.

Muji Tahir, Hailani, 1991, Sistem Ekonomi Islam dan Dasar Belanjawan, Selangor: al-Rahmaniah.

Taymiyyah, 1983, Ibn al-Ubudiyyah, Singapura: Pustaka Nasional Pte. Ltd.

Ubaidat, Mahmud Salim, 1990, Dirasat fi ‘Ulum al-Qur’an, Amman: Dar ‘Umar.


* Penulis adalah dosen IAIN Walisongo DPk  pad STAI An-Nawawi Purworejo

[1] Mahmud Abu Saud, Garis-garis Besar Ekonomi Islam,Ptrj: Achmad Rais, cet 2, (Jakarta: Gema Insani Press, 1992) hlm. 15.

[2] Yusuf al-Qardawiyy, Matlamat dan Tujuan Ibadah dalam Islam, (ttp: Yayasan Dakwah Islamiyyah Malatsia, 1986) hlm. 50.

[3] Fairuz Abadiy, Qamus al-Muhith, cet 2, (ttp: Mathba’ah Musthoafa al-Halabiyy, 1952)Jil. 4, hlm. 301.

[4] Mahmud Salim ‘Ubaidat, Dirasat fi ‘Ulum al-Qur’an (Amman: Dar ‘Umar,1990) hlm.30.

[5] Muhammad Abu Subhah, al-Madkhal li al-Dirasah al-Qur’an al-Karim, cet 3, (ttp: Dar al-Liwa’ li al-Nashr, 1987) hlm.19.

[6] Mahmud al-Tholhan, Taisir Mustholah al-Hadits, (Riyadh: Mathba’ah al-Madinah, 1976) hlm.14.

[7] Shafiyurrahman al-Mubarakfury, Sirah Nabawiyyah, cet 13, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2003) hlm. 101.

[8] Manna’ al-Qathan, al-Tasyri’ wa al-Fiqh fi al-Islam, cet 2 (bairut: Muasasah al-Risalah, 1982) hlm. 62-63.

[9] Shafiyurrahman al-Mubarakfury, Sirah Nabawiyyah, cet 13, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2003) hlm. 101.

[10] Muhammad Baqir al-Sadr, Iqtishoduna, cet 20, (Bairut: Dar al-Ta’aruf, 1987) hlm. 26.

[11] Munir Hamid al-Bayatiyy, Nudzum al-Islamiyyah, (Amman: Dar al-Basyir, 1994) hlm.217. 218.

[12] Ibn Taymiyyah, al-Ubudiyyah, (Singapura: Pustaka Nasional Pte. Ltd, 1983) hlm. 139.

[13] Yusuf Hamid al-‘Alim, Nizam al-Islam al-Iqishadiyy al-Siyasiyy, (Bairut: Dar al-Qalam, 1975) hlm. 24.

[14] Muhammad Baqir al-Sadr, Iqtishoduna, cet 20, (Bairut: Dar al-Ta’aruf, 1987) hlm. 288.

[15] Muhammad ibn Isma’il al-Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, (Bairut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1992) jil. 2, hlm. 93.

[16] Shafiyurrahman al-Mubarakfury, Sirah Nabawiyyah, cet 13, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2003) hlm. 248.

[17] Abu Sin Ahmad Ibrahim, al-Idarah fi al-Islam, (al-Qahirah: Maktabah Wahbah, 1984) hlm. 120.

[18] Naqvi Syed Nawab Haider, Etika dan Ekonomi Satu Sintesis Islam, (ttp: Berita Publishing Sdn. Bhd, 1990) hlm. 42.

[19] Muhammad Hasan Abu Yahya, Iqtisoduna fi dlou’I al-Qur’an wa al-Sunnah, (‘Amman: Dar ‘Imar li al-Nasyr, 1989) hlm.37.

[20] Muhammad al-Sayed al-Wakil, Jaulah Tarikhiyyah, (Jeddah: Dar al-Mujtama’,tth) hlm. 74.

[21] Mahmud Abu Saud, Garis-garis Besar Ekonomi Islam,Ptrj: Achmad Rais, cet 2, (Jakarta: Gema Insani Press, 1992) hlm. 42.

[22] Hailani Muji Tahir, Sistem Ekonomi Islam dan Dasar Belanjawan, (Selangor: al-Rahmaniah, 1991) hlm.77.

[23] Muhammad Baqir al-Sadr, Iqtishoduna, cet 20, (Bairut: Dar al-Ta’aruf, 1987) hlm. 400.

[24] Hailani Muji Tahir, Sistem Ekonomi Islam dan Dasar Belanjawan, (Selangor: al-Rahmaniah, 1991) hlm.106.

[25] Muhammad al-Sayed al-Wakil, Jaulah Tarikhiyyah, (Jeddah: Dar al-Mujtama’,tth) hlm. 90.

Last Updated on Saturday, 21 June 2014 05:23  
Indonesian Arabic English


Banner
Banner
Banner
Banner
Banner